Cerpen | Malam-Malam Ira

CERPEN
MALAM-MALAM IRA
By : Togar AO - 5

Menyeruput teh atau kopi sambil mata jelajatan kesana kemari adalah menu utama yang disuguhkan pemilik warung yang biasa kami panggil mami itu, di tambah lagi belasan gadis yang bisa menemaniku  menghapus gundahnya hati, membuat diriku betah berjam-jam bahkan semalaman suntuk nyangkruk di warung itu, mereka selalu saja menebarkan senyum yang membuat hati ini penasaran ingin melumat senyum itu. 

Begitulah suasana warung itu di setiap malamnya, walaupun hanya sekedar untuk menyeruput segelas kopi sambil cuci mata, tetapi tetap saja suasana di warung itu mengasikkan buatku. Di atas kursi kayu tepatnya di sudut ruang, wajah manis Lusi, Ita, Wardiah dan Ira selalu menebarkan senyum, sepertinya mereka memang sengaja mempertontonkannya agar para lelaki hidung belang yang mendatangi warung itu  tergoda untuk melirik lalu akhirnya bertekuk lutut dalam pelukan mereka.

Malam itu alunan musik masih terdengar dari warung kecil itu, redup lampu lima watt terasa malas memberikan terang, angin malam sesekali bertiup terbawa laju kendaraan berat yang lewat, orang-orang silih berganti datang dan pergi, ada yang membawa setumpuk permasalahan karena istrinya di rumah selalu ngomel karena uang belanjaan hanya cukup untuk beli terasi saja, ada juga yang hanya membawa secuil resah di hati karena sang kekasih kabur dengan orang lain, ada juga yang hanya bermodalkan iseng semata sehingga mereka terpaksa betah berlama-lama duduk di warung itu.  Di antara orang-orang itu aku adalah salah satu dari mereka, setiap suasana hati sedang

jenuh aku selalu menyempatkan diri mengunjungi tempat itu, entah sudah berapa banyak lembaran ribuan melayang demi membayar keisengan ku itu, hingga tak terasa aku kini menjadi akrab dengan si pemilik warung yang biasa aku panggil mami itu. Tubuhnya agak bongsor, namun sisa-sisa kecantikan masih terpancar dengan jelas di wajahnya, ditambah lagi tato kupu-kupu kecil yang nangkring di pangkal lengannya seakan-akan ikut bercerita bahwa masa mudanya dulu tidaklah jauh berbeda dari gadis-gadis yang kini menjadi anak buahnya. 

Dandanannya yang menor selalu menebarkan senyum setiap kali aku datang ke warung itu, semua gadis-gadis yang ada di warungnya adalah pasukan-pasukan penghasil rupiah bagi dia, saat ini kuhitung hanya ada sebelas gadis yang tersisa setelah Wati dan Alfi pergi, kesemuanya cantik-cantik, namun dari mereka semua ada sebuah wajah yang selama ini secara diam-diam aku menyukainya, dia bernama Ira, raut mukanya putih, senyumnya manis, ditambah lagi dua lesung pipit di pipinya saat dia tertawa. Seandainya boleh aku jujur padanya, ingin aku katakan bahwa wajahnya sangat mirip dengan seseorang yang dulu pernah mengukir hatiku dengan indahnya cinta pertama, dengan kata lain wajahnya mirip dengan pacarku dulu, ah…. Baiknya aku tak mengingat lagi wajah itu, karena semakin aku mengingatnya semakin perih hati ini dan semakin dalam luka di hatiku.
****
Malam masih dini ketika aku memasuki warung itu, sapaan khas mami tak menghalangi mataku mencari sosok tubuh mungil Ira.
“Sudah tadi sampean datang mas ?”

Hampir copot jantungku ketika Ira dengan tiba-tiba muncul dibelakangku sambil mengepulkan asap rokok mild dari balik bibirnya yang memang mungil. Wajahnya yang lugu kembali mengingatkan aku pada seseorang yang dulu pernah menjadi cerita dalam hidupku. Nasib telah memisahkan kami dengan sangat kejam, dia dikawinkan oleh orang tuanya dengan seorang anggota dewan yang katanya wakil rakyat tapi tidak pernah memikirkan penderitaan rakyat sepertiku jika kehilangan kekasih belahan hatinya. 

Ya dari pada harus kelaparaan bila kawin dengan aku yang hanya sebagai guru honorer di SD, mending aku relakan saja dia menikah dengan dia. Pergolakan memburu nasib, dan kenginan untuk hidup mapan memaksa dia untuk menukarkan kejujuran hatinya dan cintanya dengan segepok uang dan harapan manis walau harus rela menyakiti aku. Dia menjual cintanya dengan bayaran sebuah rumah gedung, dengan menghianati aku yang cuma mampu hidup di rumah kontra’an kecil di samping SD tempat ku mengajar.

Aku masih ingat betapa sakitnya hatiku waktu itu, pernikahannya dengan Sudiono MPDi anggota dewan itu telah menorehkan luka yang tak akan mungkin aku sembuhkan, pesta pernikahannya yang sangat meriah tak terganggu oleh rintihan hatiku ketika melihat dia dengan senyum kebahagiaan menyalami setiap tamu undangan yang hadir termasuk aku. Hingga kini, delapan tahun berlalu tak sengaja aku kembali menemukan rasa yang hilang itu melalui sentuhan manja seorang Ira. Gaya bicaranya, tingkah manjanya, dan semua yang ada di dalam tubuhnya seakan-akan telah membawaku pada kenanganku delapan tahun silam, kenangan yang sebenarnya ingin sekali kulupakan, namun kini hadir kembali seiring melalui kehadirannya
* * *
Seperti malam-malam lainnya, pada malam itu aku terburu-buru memasuki pintu warung yang masih terlihat sepi, maklumlah aku datang bertepatan dengan berkumandangnya adzan Isya’ di langgar yang letaknya tidak begitu jauh dari warung tempat Ira biasa mangkal

“Kenapa tetap di pintu, cepatlah kemari” panggil Ira menyambut kedatanganku
Tanpa menunggu lama aku langsung menghampiri dia, terasa sekali  pikiranku kini menghadapi masa lalu yang sebenarnya ingin sekali kubuang, tapi tetap saja makna masa lalu ku itu begitu memabukkan aku, wajahnya yang memang mirip sekali dengan dia memaksa aku untuk kembali membuka memoriku tentang seseorang disana, 

seseorang yang kini entah bersama siapa, seseorang yang amat sangat aku sayangi walaupun dia telah menyakiti perasaanku, seseorang yang amat kurindui walaupun dia menghianati cintaku, namun rasa cinta ini lebih besar daripada rasa sakit hatiku, dan kini aku menemukan kembali semua itu, ketika lentik jemari dan halus tutur kata Ira menyentuh kalbu, aku kembali bergelimang dengan nyanyian-nyanyian masa lalu yang menghampiri raga ini.

“Mas kenapa diam saja, ngomong dong”suara Ira terdengar begitu merdu.
Aku tak menaggapi pertanyaannya, kembali pikiranku tertuju pada angan konyolku, batinku berkata wanita seperti dia tidak cocok hidup di bawah atap rumah pelacuran, wanita seperti Ira seharusnya hidup di rumah yang damai dan penuh dengan kasih sayang, dia seharusnya memiliki sentuhan lembut tangan seorang suami yang mampu melindungi dan mengayomi dia, bukan seperti di sini yang mana semua laki-laki berhak untuk merasakan indah tubuhnya asal sanggup membayar.

“Kok masih bengong sih, kalau masih tetap bengong ntar Ira tinggal lho!” kata-kata Ira membuyarkan lamunanku
“Oh sorry, ah nggak apa-apa, aku cuma mikirin kamu aja, habis lama gak bertemu” sebisa mungkin aku menyembunyikan pikiran konyol di
kepalaku.

Malam itu untuk kesekian kalinya aku habiskan kejenuhanku dibalik malam bertemankan Ira, entah sudah berapa kali dia menemaniku menghabiskan malam, namun sampai detik ini aku tetap saja merinduinya, dia bagaikan embun didalam hatiku, dia bagaikan air yang ku temukan di kala hatiku kemarau, di tabir rindu ini kami sering bercerita dengan bahasa kami masing-masing, sebuah bahasa kerinduan yang amat menyiksa namun mengasikkan
* * *
Bersama Ira aku mendapatkan rasa saling membutuhkan, hingga dia bagiku bagaikan candu yang semakin aku menghisap maka semakin aku merasa membutuhkannya. Pernah terlintas dalam otakku untuk menikahi dia, ingin aku entaskan dia dari hitamnya rumah bordir itu, aku tak peduli walaupun dia bukan gadis suci, karena aku juga bukanlah sosok lelaki bersih. 

Ingin sekali aku membangun sebuah biduk rumah tangga dengannya, ingin sekali aku mendengar anak-anak ku kelak memanggil dia dengan sebutan mama, tapi aku tidak punya keberanian untuk kesana, nyaliku sebagai seorang lelaki telalu kecil, apalagi bila teringat akan gajiku yang masih dibawah rata-rata, gajiku yang hanya cukup untuk hidup pas-pasan menyurutkan niatku untuk melangkah kesana, tak mungkin aku bisa membahagiakan Ira dengan keadaanku sekarang ini. Tetapi bila aku teringat kata-katanya waktu itu, dia  bercerita kepadaku ingin mempunyai sebuah keluarga yang utuh, mempunyai anak yang lahir dari rahimnya dan membesarkannya dengan siraman kasih sayang di dalam rumah yang penuh keharmonisan.

“Aku sudah bosan mas, dengan kehidupan yang seperti ini”
Kembali teringat kata-kata Ira waktu itu, untuk yang kesekalian kalinya dia mengutarakan keinginannya untuk keluar dari semua ini, tapi keberanian yang kecil dan kebutuhan untuk hidup, terus saja memaksa dia terus hanyut dan terbawa oleh alur kehidupannya, sebuah kehidupan malam yang rentan bahaya bagi gadis seanggun Ira.
 * * *
Seminggu telah berlalu, dan telah seminggu pula aku tidak menyambangi Ira di warung mami , namun setiap malam kusempatkan diriku untuk merindukannya, kucoba membandingkan dia dengan gadisku yang dulu, kuhembuskan disetiap sela fikiranku dengan wajahnya, kusisipkan disetiap rongga telingaku dengan suaranya, kusisipkan setiap sisi dijantungku dengan manis senyumnya, kucoba resapi apa arti semua kata yang pernah diucapkan bibirnya. Akhirnya aku sadar bahwa memang dia pantas menerima yang terbaik bagi hidupnya, memang dia pantas untuk mempunyai sebuah keluarga yang utuh dan seorang suami yang baik. 

Renungan demi renungan  menimbulkan sebuah harapan baru dalam benakku, keberanianku mulai tergugah, materi bukanlah suatu syarat mutlak untuk menikahi wanita yang aku cintai, Tuhan pasti mengatur jalan hambaNya untuk mencari rejeki jika memang orang itu menggunakannya dijalan yang memang diridhoi olehNya. 

Akhirnya malam itu kulewatkan dengan tenang, kubulatkan tekad untuk mendatangi warung dan mengutarakan maksudku ini pada mami bahwasanya aku ingin menikahi Ira, walaupun dia kuentaskan dari hinanya dunia malam, aku masih percaya kesucian cinta, karena cinta datang bersamaan dengan datangnya kebenaran, cinta tak mengenal arti kehinaan, bila ia datang pada satu hati, maka hati itu akan menjadi buta, semua yang dilihatnya adalah suci, meskipun ia tahu cinta itu datang dari lembah kehinaan, namun tetap saja kesucian cinta tak akan ada yang bisa merubah. Seperti halnya Ira, kebutaan cinta telah merasuki setiap warna nafasku, hingga aliran darahku hadirkan kebutaan disetiap langkah.
* * *
Keesokan harinya aku melangkah tenang menuju tempat Ira bekerja , dalam anganku terbayang sebuah rumah yang mungil, seorang bayi yang imut dan seorang istri cantik yang selalu menyambutku setiap pulang dari mengajar. Angan ku disibukkan oleh harapan-harapan indah. Semakin kupercepat langkah kakiku hingga tak terasa aku memasuki warung itu, suasana tampak sepi, yang nampak hanyalah Lusi, Ita, Wardiah, dan seseorang tua yang sedang duduk menatapku kosong.

“Kamu nyari mbak Ira ya mas?” tanya Wardiah ketika melihatku celingukan dipintu warung
“Eh, iya, emangnya dia ada dikamarnya ?” tanyaku tanpa bisa menyembunyikan perasaanku untuk secepatnya menemui dia, agar kubisa selekasnya memberi kabar baik untuknya bahwa aku siap menikahinya, aku siap menjadi suami yang baik, dan aku siap untuk menjadi ayah bagi bayi-bayi yang dia lahirkan kelak.

“Mbak Ira tadi siang telah pergi, dia sudah berhenti kerja disini mas, dia dijadikan istri muda oleh seorang mandor yang dulu sering kesini” cerocos Wardiah sembari matanya menerawang.
“Iya war, beruntung banget Ira itu ya! Sudah kawin dapat suami kaya lagi, kalau aku dilamar dia, pasti akan ku terima tanpa syarat, lagian orangnya nggak jelek-jelek banget khan” Lusi ikutan berkomentar.

Bagaikan petir di siang hari, seketika itu juga seluruh persendianku lemas, apakah benar semua yang dikatakan oleh Wardiah dan Lusi, apakah mereka sungguh-sungguh jujur mengatakannya, ataukah mereka hanya menggodaku dengan menyebarkan berita bohong, namun kulihat tak ada dusta di wajah mereka, hatiku menjadi cemas, setengah berlari aku menuju tempat mami , kutanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada Ira, aku ingin sekali membuktikan bahwasanya perkataan Wardiah dan Lusi tidak benar.

Akhirnya kutemukan mami di kamar tengah, tanpa membuang waktu kutanyakan perihal Ira padanya.
“Apakah benar Ira pergi dari sini ?” cerocosku.

“Kamu tahu dari Wardiah dan Lusi ya?” mami balik bertanya tanpa menoleh padaku, tangannya masih sibuk mengeringkan rambutnya yang masih basah dengan handuk kecil “Tolong ceritakan apa yang sebenarnya telah terjadi pada Ira” aku semakin tak kuasa menahan gemuruh di dalam hatiku ini

Mami lalu mengawali ceritanya sambil mengambil tempat duduk di sampingku. “Sebenarnya aku sudah berjanji pada Ira tak akan mengatakan semua ini kepadamu, namun kini dia telah pergi, dan aku pikir sudah seharusnya sekarang kamu mengetahi semua tentang dia” 

mata mami menatap tajam kearahku membuat aku semakin bertanya-tanya apa yang sebenarnya telah terjadi. Mami kemudian  melanjutkan ceritanya “Dulu waktu pertama kali Ira datang ke tempat ini, dia terlihat seperti orang yang sedang putus asa, akhirnya setelah aku telusuri akhirnya dia mau bercerita apa yang sebenarnya terjadi dalam hidupnya. 

Nama dia sebenarnya bukanlah Ira,Ira adalah nama yang kuberikan setelah dia resmi bekerja di sini, dia pernah bercerita kepadaku, dia sebenarnya mempunyai seorang suami seorang anggota dewan, namun kelurganya yang harmonis itu tiba-tiba terguncang badai yang hebat, sang suami yang sangat dia cintai kepincut sekretarisnya sendiri, akhirnya dia pun diceraikan ketika sedang hamil dua bulan” cerita mami terputus, matanya terlihat menerawang ke arah masa silam, setelah terdiam cukup lama  mami kembali meneruskan ceritanya.

“Namun semenjak kedatanganmu di warung ini, kulihat kesedihan dimatanya berangsur-angsur menghilang, tak ada lagi mendung kegalauan tergantung di wajahnya, sempat juga hatiku bertanya-tanya apa yang sebenarnya telah terjadi pada Ira. 

Hingga akhirnya pada suatu malam dia mendatangi kamarku dan mulailah dia bercerita tentangmu, dia mengatakan kepadaku engkau adalah seseorang yang dulu pernah memberinya cinta sebelum dia memilih menikah dengan mantan suaminya dulu, Ira mengatakan kepadaku bahwa dia sebenarnya masih menyayangi kamu, namun sebisa mungkin dia menyembunyikan identitas dia yang sebenarnya di depan kamu sebab dia tak ingin menyakiti perasaanmu untuk yang kedua kalinya, karna semenjak suaminya pergi, di dalam hatinya hanya ada dendam pada semua pria, Ira ingin menyakiti semua lelaki sebagaimana suaminya dulu menyakiti dia”

“Apakah nama asli Ira adalah Agustiningsih ?” akhirnya terlontar juga pertanyaan itu, sebuah pertanyaan singkat namun sanggup mewakili semua kegalauan dalam hatiku.
“Iya…..” jawab mami ringan tanpa ekspresi, lalu dia melanjutkan ceritanya kembali.
“Sebelum Ira pergi dia menitipkan pesan untukmu, dia ingin engkau mencari pendamping hidup yang lebih mulia daripada dia, carilah seorang isteri yang sanggup menemanimu di saat susah maupun senang, bisa memelukmu di saat engkau kedinginan, dan bisa menjadi tauladan bagi anak-anakmu kelak. Dan dia juga berpesan kepadamu, jika esok engkau memiliki seorang putri yang manis, ceritakan juga padanya tentang kisah seorang perempuan yang selalu terhina di dalam hidupnya, seorang perempuan yang terpaksa menggeluti dunia hitam karena kekejaman seorang suami telah mencampakkannya di dalam dunia hitam yang sangat kelam, agar cukuplah dia saja yang bernasib seperti ini”

Belum selesai mami  bercerita tiba-tiba kepalaku mendadak pusing, darah di pergelangan tanganku seakan-akan terhenti, lanjutan dari cerita mami tak lagi kudengarkan, hatiku bagaikan tercabik-cabik ribuan sembilu, ternyata orang yang selama ini selalu setia menemani malamku tak lain adalah gadis yang pernah mengisi cinta pertama di dalam hatiku. Kenapa aku begitu goblok tidak mengenalinya. Kini dia telah pergi, dan tak mungkin lagi dia dapat menemaniku seperti yang selama ini kuimpikan, kini duniaku benar-benar telah hancur, keinginanku untuk menikahinya telah tinggal bayang-bayang, dia pergi bersama seorang mandor dengan setumpuk dendam pada semua lelaki di hatinya.

Senyuman Ira kini tak lagi menghiasi malam di warung mami, hingga tanpa kusadari, kini sudah tiga tahun aku tak pernah lagi mengunjungi warung itu, kerinduanku telah terkikis habis bersama langkah Ira, tak ada hasrat di hati ini untuk mencari gantinya, cinta di hatiku kini telah kering bersamaan dengan kepergiannya di malam itu, akan kuarungi sisa hidup ini hanya dengan bertemankan serpihan-serpihan kenanganku dengannya. 

Kini ijinkanlah aku pergi agar bisa abadi memilikimu, memiliki dan mencintaimu dengan caraku sendiri. Kini aku tak lagi takut kehilanganmu, karena didalam hatiku engkau tetap hidup, hidup bagai bunga teratai di tepi kolam, memberi keindahan sebagai pembangkit jiwa yang sempat layu, dan mengilhami setiap langkah kakiku menuju terjalnya jurang penantian, sebuah penantian yang panjang, hingga di esok hari mungkin engkau ada niat untuk kembali, di saat itupun aku tetap menanti.
*****

Artikel Singkat Tentang Pendidikan Seni dan Budaya


Contoh Artikel Singkat Tentang Pendidikan Seni dan Budaya
Artikel Pendidikan | Dimensi seni dan Budaya dalam dunia pendidikan
Seni adalah sebuah kata  yang semua orang pasti mengenalnya, walaupun dengan kadar pemahaman yang berbeda. Konon  kata Seni berasal dari kata “Sani” yang artinya “jiwa yang luhur/ketulusan jiwa. Dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah art (artivisial) yang artinya barang/karya dari sebuah kegiatan.

Budaya
adalah cara hidup suatu bangsa atau umat budaya dan dilihat sebagai pancaran ilmu dan pemikiran yang tinggi dan murni dari sesuatu bangsa atau untuk menyatukan kehidupan berasaskan peradaban.

Sedangkan
pendidikan adalah usaha sadar dan terencana dalam membantu manusia untuk mengembangkan seluruh potensi yang dimilikinya agar manusia mampu mengemban tugas yang diberikan kepadanya.
Dari pengertian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa seni dan budaya memiliki peran penting dalam sebuah pendidikan. 

Tanpa adanya seni dan budaya, seorang pendidik tidak akan maksimal dalam mendidik peserta didiknya. Karena seni dan budaya adalah jalur paling mudah dalam membentuk karakter seseorang. Sebagai seorang mahasiswa sangat perlu pendidikan seni dan budaya ini, karena biarpun gaya kalau tidak mengenal seni dan budaya sama saja hidupnya akan monoton.

Menurut mahasiswa yang berinisial (R) “Seni dan Budaya itu katrok (kampungan/norak) karena sudah tidak zaman lagi memakai kebaya, menari tari tradisional, kan itu sudah "jadul”(kuno) (ucap mahasiswa ini). Memang seni dan budaya adalah warisan leluhur, tapi bukan berarti jadul! Tugas kita untuk melestarikannya, malah yang tidak acuh terhadap seni dan budaya itu yang katrok Maunya “Rok Norok” orang Barat. ("Rok norok" bahasa madura yang bermakna hanya ikut-ikutan)

“Jangan hanya berintelektual saja, Kesenian juga butuh untuk menyatukan emosional antar personal.”
Kemarin pada tahun 2007-2012 Seni dan Budaya di Negara kita hampir punah, kehilangan Eksistensinya. Tahun sekarang Seni dan Budaya dimensinya sangat besar didalam pendidikan. Sesuai dengan UUD 1945 pasal 32 ayat 1 yang berbunyi “Negara memajukan kebudayaan Nasional Indonesia ditengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam  memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya.”

Hingga pada saat ini Seni dan Budaya banyak diterapkan disekolah sampai perguruan tinggi diantaranya ekskul teater, music, tari, dll. Juga perguruan-perguruan tinggi yang mulai dikhususkan untuk pendidikan Seni dan Budaya sendiri.


Tidak hanya itu, kalau kemarin-kemarin kitasering ikut aksi didepan gedung DPR yang berakhir anarkis alangkah baiknya jika sekarang aksinya dengan mencipta karya. Mencipta atau membaca puisi kek, nyanyi kek, atau melukis namun sesuai dengan tema aksi.Yang seperi itulah lebih diapresiasi oleh pemerintah.
Jadi sangatlah erat hubungan seni dan budaya dengan pendidikan, jangan pernah menganggap seni dan budaya hanyalah sesuatu yang tidak penting kita pelajari. 

Tapi terus tanamlah seni dan budaya dalam jiwa kita dengan terus Berkarya.

Sebuah contoh artikel pendidikan singkat tentang pendidikan seni dan budaya, semoga bermafaat. salam bekarya. baca juga artikel menarik lainnya di http://komunitasseni-iain-j.blogspot.com pada menu label diatas.

Puisi | Lamunan Masa Silam

LAMUNAN MASA SILAM
By : Embok-AO 7

Redup cahaya menembus kabut
Suasana malampun larut ke dalam sepi yang memukau
Suara langit dan bumipun  ikut bergentayangan
Memangut sepi yang tak terbaca


Irama kalbu dari detak jantung kehidupan
Yang diam-diam berbenturan dengan derai angin malam
Membawaku dalam sebuah lamunan masa silam
Disebuah singgahsana yang masih cukup asing bagiku saat itu
Aku dan kau pernah disana

Melintasi padang gersang di tengah kekhilafan
Derap jantung yang serasa lebih cepat dari semestinya
Membuat bibirku gagu malam itu
Meramal isyarat kata hatimu
Bahkan mengeja tiap lekuk sajak cintamu yang menawan
Lalu kau masuki kuasa mimpi bersama rindumu saat itu

Dalam lengking irama sunyi
Kau menyumbu dan merayu
Dalam dekapan yang hangat dan begitu mesra
Kau kecup bibir dan keningku
Seakan begitu tulusnya cintamu padaku

Tapi kini semu a telah lekang oleh waktu
Persetan dengan semua
Begitu mudah kau tinggalkan aku
Begitu mudah kau lupakan semua
Seakan tak pernah ada kisah antara kita

Diriku bak pohon yang kehilangan akar saat itu
Roboh tergoleh di sebuah kamar kecil perkampungan
Tempat ku biasa membawa lamunanku padamu
Sendiri dipenantian yang mengalun diantara lagu kehidupan

Berharap kau akan kembali padaku
Memperbaiki keadaan dan melupakan tentang bagaimana
Cara berpisah
Tapi semua sia-sia…………

Bak laron dan kekunang liar
Aku berkecipak menabuh sangsi dengan asmara rindu
Yang ku rekam tabu sunyi sendiri
Langit seperti meronta

Melebihi suara gendang pada daun telingaku yang letih
Begitu pilu hatiku, makin riuh, tapi sulit tuk bisa bedakan
Antara degup nestapa dengan tarian gemintang yang beringas
Persis seperti hari ini
Nyaris batinku terkapar
Mengenali jejak tanpa tanda

Cerpen | Rindu : By Togar

RINDU
By : Togar-AO 5)

Tanah makam itu masih basah, di atasnya tampak tumpukan bunga melati dan mawar yang masih segar pertanda bunga itu baru di tabur, malam masih belum sepenuhnya tiba, lembias warna kuning masih tersisa di ufuk langit sebelah barat, sesekali terdengar suara burung bercericit terbang rendah di atas areal pemakaman tempat ku duduk terpekur di depan sebuah nisan, mungkin burung itu tengah mencari jalan pulang menuju sarangnya selepas sehari sibuk bermain di areal persawahan yang sudah mulai jarang terlihat, termusnahkan oleh berdirinya bangunan-bangunan tembok di kampung ini. Ku perhatikan sekelilingku, kerlip kunang-kunang mulai tampak terlihat bermunculan dari balik rerumputan makam, namun aku masih belum beranjak dari tempatku duduk, aku masih asyik dalam kesendirianku, masih tetap termenung menatap makam di depanku.
Lamunanku mengembara pada tahun kedelapan sebelum aku menemukan dirinya terbaring kaku 

Contoh Cerpen | Cerpen Romantis | Cerita Romantis | Rindudengan  mata terpejam menyisakan harapan kecil dalam diam yang fana. Dia biasa memanggilku dengan sebutan HONEY sebutan yang mungkin bagi orang lain tak berarti apa-apa namun bagiku sebutan itulah adalah panggilan yang paling indah. Tubuhnya yang mungil dan tingkah nya yang manja masih teringat jelas dalam benakku, betapa manisnya jika dia cemberut, dan betapa indah matanya yang berbinar jika pada suatu sore aku datang dengan sekuntum bunga mawar merah di tangan kanan ku.
Namun semua itu tidak berarti apa-apa saat datang kabar bahwa aku harus pergi dari kota ini dalam waktu yang lama, orang tuaku mengultimatum aku untuk meneruskan kuliah ku ke Yogyakarta, sebuah kota yang selama ini hanya aku lihat di televisi, sebuah kota yang konon telah melahirkan ratusan bahkan ribuan seniman di tanah air, sebuah kota yang di dalamnya terdapat surga bagi para calon-calon seniman. 
Jujur hal itulah yang menarik hatiku, mimpi untuk mereguk suasana damai senja di Malioboro sembari tangan menulis bait puisi pada secarik kertas, menatap rembulan di

Pangadaran atau menghabiskan waktu di situs-situs purbakala Borobudur, hal itulah yang selalu mengusik tidurku pada malam-malam terakhir sebelum aku meninggalkan dia. Hingga dalam senja yang panjang aku tekadkan hatiku menembus rasa bimbang, kuputuskan untuk meninggalkan kota ini dan meninggalkan dirinya hanya dengan mengabari kepergianku pada sepucuk surat yang ku titipkan pada adikku. Betapa kejamnya aku, selalu saja tak sanggup untuk melihat tetes air mata di pipinya jika aku berdiri hanya untuk mengucapkan kata selamat tinggal.
****
contoh cerpen | cerpen romantis | cerita romatis RinduSetahun pertama rasa rindu padanya terasa menggunung walau setiap hari kami selalu berkirim kabar dan bertukar cerita melalui sms atau telepon, namun rasa itu selalu aku bisa kesampingkan dengan menyibukkan diri pada tumpukan buku-buku sastra dan tugas-tugas perkuliahan semester pertamaku di salah satu fakultas cabang seni di kota itu, hampir saja aku berniat untuk pulang pada liburan semester ke dua ku, namun wanti-wanti orang tuaku di telepon agar aku tidak usah pulang mengurungkan niatku walau rasa rinduku pada dia telah benar-benar menggunung, 

hingga dapat kupastikan uang kiriman dari orang tua tidak ada jatah untuk transport pulang di dalamnya Tahun kedua aku mulai bisa melupakan dia, berkirim kabarpun hanya sesekali dalam satu bulan, itupun hanya sepatah kata dalam penggalan sms, entah sudah berapa puluh ribu alasan yang aku ucapkan hanya untuk cepat-cepat mematikan telepon waktu dia menelepon, entah ada rapat organisasi, entah ada pementasan teater, entah ada seminar budaya atau entah ada apa lagi lah, yang penting dia cepat mematikan telepon dan mengakhiri telepon dengan kata maaf  karena menelepon di saat yang salah. 

Hal itu berlangsung ber bulan-bulan namun dia selalu saja setia untuk menelpon aku atau sms, walau hanya untuk mengingatkan ku untuk tidak melupakan shalat dan jangan sampai telat makan agar penyakit magg ku tidak kambuh.*****

Mudah di tebak pada tahun-tahun berikutnya aku telah benar-benar melupakan dia, kehadiran seorang gadis telah berhasil merampas semua rasa rinduku padanya dengan cara yang teramat kejam. Ribuan pesan dan puluhan surat darinya tak lagi aku hiraukan, akhirnya ku bulatkan tekadku untuk ganti nomer telepon, sebuah cara yang ku anggap paling logis dan paling tidak menyakitkan untuk perlahan meninggalkan dia tanpa harus berdebat atau bertukar kata-kata yang akhirnya akan membuat dia menangis. 

Kehadiran seorang gadis yang aku kenal saat aku menikmati sore di malioboro telah membuat hatiku tak lagi mengingat janji-janjiku untuk setia yang aku tuangkan dalam surat ku padanya dulu. Gadis itu datang pada ku bagaikan putri, bersamanya imajinasiku semakin tertata, hingga aku semakin sering menulis bait-bait di sore malioboro tapi bukan berkisah tentang rasa rinduku untuknya lagi, sebab sepenggal hati yang lain kini telah menemaniku.

Tak terasa tiga setengah tahun aku berada di kota itu, dan tak terasa pula telah tujuh semester aku lewati, hari-hariku berjalan datar dengan cinta baruku itu dan aku telah benar-benar terlupa pada dirinya yang menungguku dengan setumpuk rindu dan sepenggal kesetiaan menunggu kedatangan ku kembali di hadapannya. Hingga pada suatu malam yang dingin aku menerima telepon dari salah satu keluargaku memintaku untuk pulang mengabarkan bahwa dirinya ingin bertemu diriku sebelum ajal menjemputnya, dan dari telepon itu pula aku mengetahui bahwasanya setahun yang lalu dokter telah memvonis dirinya menderita kanker dan nyawanya hanya tersisa dalam hitungan bulan saja, dan malam ini dia terbaring lemah di ranjang rumah sakit hanya menghitung detik-detik waktu untuk menjemput nyawanya.

Berita itu membuat seluruh persendianku terasa lemas, tiba-tiba muncul rasa  bersalah memenuhi rongga hatiku, Kenagan-kenangan ku bersamanya dulu tiba-tiba datang kembali di depan mata, senyumnya tiba-tiba hadir kembali, ruas-ruas jalan yang dulu pernah kami tapaki bersama perlahan mulai terpahat kembali dalam hatiku, tanpa menunggu waktu di dini hari itu pun aku langsung berkemas walau malam masih belumlah Shubuh, setengah berlari menuju pangkalan becak, satu-satunya kendaraan yang tak pernah tidur di kota itu walau malam telah berselimut dingin, untuk mengantarkan ku mencegat kereta api pertama jurusan Yogyakarta-Surabaya di stasiun.
****
Mas .....
Mungkin selama ini rinduku hanya fatamorgana
Aku tahu letak kesetiaan hanyalah sebatas lambaian tangan
Sebab aku tahu engkau pasti akan melupakanku semenjak engkau melambaikan tangan dulu

Namun jangan pernah menyamgka aku telah bosan
Selama ini  aku masih setia dengan semua kerinduan ini mas .......
Mungkin hanya itu yang bisa aku persembahkan untuk hidup ku dan orang yang sangat aku cintai sebelum ajal datang menjemputku

Dan kini semuanya telah terjadi,
Sebab takdir Tuhan tak akan pernah tergagalkan
Aku ingin mentitipkan rasa rindu ini untukmu, tapi hanya  sebagian
Sebab bagian yang lain ingin aku persembahkan pada hatiku yang selama ini selalu tesakitkan oleh rasa rinduku padamu

Dan juga karena aku tidak  ingin kisah ku ini  terdengar oleh anak-anakmu kelak
Siksa seorang wanita yang mencintai ayahnya, namun tidak pernah bisa menjadi ibu untuknya.
Doakan aku jika engkau ada waktu mas......,

Dan kunjungi aku......
Sebab rindu itu masih ada
Walau tubuhku telah menjadi debu
Salam sayang
HONEY

Begitu bunyi selembar surat yang dia tinggalkan untukku, sebab memang aku tidak pernah lagi menatap matanya meski untuk terakhir kali, dia telah berpulang lima jam sebelum aku tiba, di menutup mata untuk selama-lamanya sebelum aku sempat bertemu dengannya, aku datang hanya menemukan sesosok tubuh beku dengan mata terpejam dalam baka, tubuhnya yang kurus kaku terbujur dalam pelukan kain kafan, dan kulihat setangkai mawar yang pernah ku berikan padanya dulu tergeletak di sebelah kanan kepalanya. Dan seperti cerita ibunya, dia meninggal dengan iringan kalimat sahadat dan setangkai mawar itu masih ada dalam genggamannya.

Dan di maghrib ini aku kembali termenung di depan makamnya, cericit burung di dahan tak lagi terdengar, puluhan kunang-kunang mulai mengabarkan bahwa malam mulai gelap, akhirnya setengah terpaksa aku bangkit dari tempat dudukku, sebab aku harus kembali ke Yogyakarta dengan kereta yang berangkat sehabis Isya. Gontai aku melangkahkan kaki keluar dari areal tanah pemakaman itu, sejenak kutolehkan kepala, kulihat dirinya bergaun putih berdiri di atas makam dengan senyum manja dan setangkai mawar pemberianku di tangannya.
****

Cerpen | Lelaki Ganyang

Contoh Cerpen | Cerita Pendek | Cerpen Singkat | Lelaki Ganyang

By : Press-AO 6

Namanya Sam, kami menyebutnya Lelaki Ganyang. Keakrabannya dengan negeri perantauan bernama Jiran seolah mengukuhkan bahwa ia layak menerima predikat bergengsi itu.  Bertahun-tahun lalu Sam harus menerima kenyataan bahwa pendidikan bukanlah hal yang pantas untuknya.Itulah yang kemudian membawanya memasuki pintu perantauan.Memang  ia pernah  mengenyam manisnya bersekolah, tapi Cuma

Contoh Cerpen | Cerita Pendek | Singkat | Lelaki Ganyang
2 tahun. Tak lebih! Atau mungkin kurang. Dalam kurun dua tahun itu sam membuktikan diri dengan menjadi juara kelas! Tiap ujian, tiap THB, tiap ulangan apa saja, ia selalu menggondol nilai sempurna! Sam optimis, ialah semestinya manusia paling layak melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi ketimbang kawan-kawan sebayanya.

“Tampaknya saja Mereka itu pintar mak, akulah yang lebih pantas melanjutkan sekolah”. Rengeknya waktu itu, dan emaknya hanya bisa pasrah! Apa lagi yang bisa dilakukan perempuan buruh tani yang suaminya terbaring tak berdaya menahan sakit yang tak kunjung sembuh? sedang anaknya tak Cuma si Sam. Masih ada dua lagi, satu laki-laki dan satu perempuan. Mereka semua butuh hidup, dan alasan yang lebih mendasar lagi; mereka butuh makan! Dan lalu pada giliranya nanti kedua adik sam itu juga butuh sekolah!

Maka sejak saat itu Sam menyatakan mundur dari bangku sekolahnya, guru-guru tak tega, semua menitikan air mata iba, tapi apa boleh dikata, keadaan yang memaksa. Orang kini mungkin menjerit dan berkata, “mana beasiswa?Mengapa tak ada  beasiswa? Ah, pakai beasiswa lah…”. Aih.., jaman dulu kami tak mengenal apa itu beasiswa, definisinyapun kami tak mengerti.  Dan hari itu nasib telah diputuskan! Esoknya, tak ada lagi  nama Sam dalam daftar absensi. Kawan-kawannya sedih, tapi kebanyakan gembira karena saingan terberat telah tiada…
******* 


Beberapa tahun bekerja serabutan tak membawa perubahan berarti bagi keluarganya, sam memutuskan ikut pak de-nya merantau ke luar negri.
Tak pernah terbayangkan dalam benaknya bagaimana wujud luar negeri. Sedang, kota kabupaten saja ia belum pernah singgahi, Sedang, Bekal pendidikanya cuma sampai kelas dua madrasah itupun tidak sampai selesai, Sam hanya tau keluarganya butuh penghidupan, kedua adiknya telah mulai besar. 

Ia tak mau mereka ikut menanggung beban keluarga. Tekadnya sudah bulat; Mereka harus sekolah!...
Aku masih ingat betul ketika dulu kami sering bermain bersama. Ada sesuatu yang tak pernah lupa ia bawa; marning dicampuri kacang goreng, dan selalu setia bersemayam di saku kananya. “sam, njaluk marninge”.

Contoh cerpen |cerpen singkat | cerita pendek lelaki ganyang
Dan, bocah pendek kurus itu tak pernah sekalipun menolak.
Sepulang sekolah biasanya aku yang menjemput sam, mengajaknya bermain apa saja yang sedang ngetrend: kelereng, main Karet, layangan, cari keres, wayangan atau apa saja. Biasanya kami akan mengendap-endap, menghindari kalau-kalau emak nya tau, karena beliau pasti marah. Bu kus, emak nya Sam memang terkenal kurang suka jika anak-anaknya dolanan keluar rumah. Pernah suatu hari aksi ala maling kami ketahuan, emak nya sam bangun gara-gara suara gaduh di dapur!.... Ternyata, aksi maling-malingan kami bersamaan dengan tindakan kriminal kucing yang coba mencuri ikan!   kamipun terlena atau melenakan diri mendengarkan siraman rohani di siang bolong. “dasar kucing kriminil!!” umpatku dalam hati.

Tapi sebagai orang yang lama mengenal keluarga mereka aku tau, bu kus adalah orang tua yang sangat menyayangi anak-anak
**********cerita pendek|singkat lelaki ganyang

 
Aku ikut mengantarnya, walau tak jauh. Kubawakan ranselnya, 
ada yang kurang, aku tak melihat emaknya…. 
Hingga beberapa hari setelah itu baru aku tau, bu kus tak kuasa melihat putra sulung kesayangannya  itu melangkah menjauhinya. Perempuan itu! Perempuan tegar itu! Bahkan yang ketegaranya menyaingi gunung yang menancap kokoh di belakang rumahnya itu, kini rapuh, amat rapuh, wajahnya kuyu bersimbah air mata…

Pagi itu, Bersama jagung goreng faforitnya, Sam memulai petualangan baru, menjelajah luar negeri, mencicipi pahit-manis tanah perantauan, merelakan diri menjauh ribuan mil dari tanah kelahiran hanya untuk sebuah keinginan sederhana: menghidupi keluarganya.

******

Di Bawah Lingkaran Kubah

Contoh Puisi Religius
Contoh Puisi Religius | Di Bawah Lingkaran Kubah
Puisi religius

Dibawah Lingkaran Kubah
By: Rifkil Halim Muhammad (Suhu)

[01] di bawah lingkaran kubah

semburat nur bak kerlingan bola mata kekasih
membangunkan bunga-bunga mimpi dari pingsannya

sedang malam masih tertegun dalam pemujaannya
di antara pilar-pilar angkasa dan senandung lagu cinta

[02] di bawah lingkaran kubah

selaksa doa yang semula berpijar
kini menjelma kupu-kupu; meninggi
di atas kubah-kubah menyendiri

sementara pintu perjamuan belum lagi terbuka
untuk aku yang tak pernah berhenti menyapa
dan sejumput harapan yang sempat tersisa

[03] di bawah lingkaran kubah

ada sukma yang meleleh; meraungkan dendam
dan matahari dan bulan dan bintang
berhamburan di atas kubin-kubin tembaga

seperti ingin menyampaikan kabar
kalau cawan-cawan anggur belum penuh terisi
untuk dituangkan ke atas pawana

sementara samudera menggiring gelombang raksasa
menenggelamkan menara cahaya
sehingga aku hanya mampu bertanya

adakah ini air mata yang lama hilang?
ataukah hanya keputusasaan yang men-jibal?

[04] di bawah lingkaran kubah

aku saksikan huruf-huruf tak beraksara
berlarian mencuri makna

namun mengapa; aku yang sudah kehilangan bahasa 
harus mengembangkan layar untuk mengejarnya

melewati laut api menyala; berjuta-juta mil jaraknya
yang terbentang antara alif  tak bertuan
menuju ya'  kemudian hilang

dan lihatlah! gurun dan pasir segera menepi
fajar merangkul malaikat berwarna jingga
bulbul terbang kegirangan
karena langit lindap cahaya; bumi mati warna

[05] di bawah lingkaran kubah

aku tumpangi perahu nun yang sukun
melewati rahasia menuju kaf  yang dhammah
sambil mengggenggam setangkai tulip yang engkau berikan

sekejap ada wewangian nan bersahaja
meremukkan seluruh sendi kesabaranku; harum sekali

tapi sesaat kemudian hilang
aku terkejut; tersentak!
karena ternyata tulip itu bukanlah apa-apa
kecuali ruhku yang sempat engkau tawan

[06] di bawah lingkaran kubah

aku lihat alam lebur menjadi satu kata
adakah ini hari kebangkitan itu?

ketika manusia kembali pada kodratnya
melangkah tanpa kaki
menyentuh tanpa jemari
ketika manusia kembali kepada kodratnya
melihat tanpa mata
mendengar tanpa telinga
ketika manusia kembali kepada kodratnya
berbicara tanpa lidah
merasa tanpa hati

semuanya begitu dahsyat terjadi; tak terkendali
hingga inilah kesadaranku; berdentum!
dalam persaksian ombak kepada angin

[07] di bawah lingkaran kubah

panca indraku kehilangan arah, terhujani debu cahaya
segalanya tak terangkai sudah
aku mengerang; berteriak menggulung cakrawala

khidir, dimanakah engkau bersembunyi
ikan di perbekalan musa telah melompat
arus mengantarkannya kepada karang
sedang kau pun melihatku; hampir tenggelam
zikirku telah melepuh menjadi uap kebiruan

cepat ajarkan aku cara membunuh, membocorkan sampan
atau membangun tembok yang hampir roboh digerus zaman

Download contoh puisi religius | Di bawah lingkaran kubah
[08] di bawah lingkaran kubah

aku terlempar di ketinggian udara
di sini waktu baru saja bermula

ketika langit menampakkan wajah aslinya
bumi terlihat seperti sebutir telur di atas bejana

yang ada hanya tetumbuhan, bongkah bebatuan
entah awan atau hujan yang akan datang

nun jauh di atas sana
gemintang berkelipan; bertebaran membentuk lukisan

tapi aneh, mereka juga berbicara
saling bisik dan bercanda

segera ku cari adam; juga tulang rusuknya yang lengkung
tapi dimanakah dedaunan menyembunyikan mereka?

di padang rumput yang lempang
aku pungut buah ranum yang terjatuh dari dahannya
inikah khuldi terlarang itu?
ada bekas gigitan; tak habis dimakan

[09] di bawah lingkaran kubah

seseorang merajut benang; seperti jala
tak kuasa aku menyapanya
ketika mata si dajjal tertusuk jarum di tangannya

tapi secepat itu pula kilat menyambar; aku terkapar
di pinggir empat sungai memanjang
dengan pintu; huruf berlubang

dimanakah obor  yang aku nyalakan?
akan ku buat api unggun di sekitar sini

ketika burung-burung kecil itu bertengger
di atas sebuah kubah dengan warna keperakan

[10] di bawah lingkaran kubah

air dalam perigi menjadi setumpuk salju
rumah-rumah yang tersusun rapi beruguguran; bersujud

malam ini; begitu liar kesunyian menyergapku
dari seluruh penjuru; hening tanpa suara binatang meradang

serta merta aku menjadi penakut
tubuhku gemetar; mungkin juga sudah mulai retak
ketika suara itu tak ku dengar lewat telinga
tapi lebih jelas dari gemuruh hujan badai

aku berusaha berlari; namun berhenti di tempat yang sama
dimana jantung saudara~saudaraku terikat
di pohon lam  dan alif yang indah tersusun
menjadi gembala dari gairah yang menyala

[11] di bawah lingkaran kubah

hembusan pasir membuat mataku nanar
sesekali beliung menyebarkan badai ilalang

aku terkesima; itu dia lelaki berbaju bulu domba!
tubuhnya gagah dengan sorot mata tajam
di telapak kakinya sahara basah kehijauan

aku tak sempat mengucap salam
karena nyanyiannya tubuhku membeku

bawalah khatm ini; carilah saudaramu
di sini nafasmu akan kutanam; jantungmu akan ku hanyutkan

tumbuhlah di atas bumi, karena disinilah engkau saat ini berada
saksikanlah pengetahuan tanpa waktu dan ruang
seperti kasih sayang, awasi selalu waktumu
tengadahkanlah tanganmu dan terimalah  gugusan galaksi ini

jiwamu akan hadir kembali
setelah malam  menidurkanmu
subuh memberimu nafas baru

dan biarkanlah keajaiban membawamu pergi

[12] di bawah lingkaran kubah

ada istana bersepuh emas; singgasana para raja
lantainya kolam di bawah kaca

ikan-ikan yang kemarin mengintip betis bilqis
menonjolkan warnanya yang indah; bercengkrama

tapi kemana hilangnya semut-semut berbaris itu?
mengapa  juga bulbul; sesenja ini belum juga pulang?

di sini aku sedang menunggu
berita dari seorang manusia biasa; bukan ifrit atau sulaiman
untuk ku tanyai tentang ruku`
tentang sujud yang mendaki ketinggian

[13] di bawah lingkaran kubah

senandung lagu menderu sepanjang jalan
ke arah hijaz; atau kemana saja

di jalan tanpa tikungan; aku berhenti
ku temui dua lorong penuh mutiara

yang satu seperti mu`jizat; pohon-pohon anggur lebat berbuah
di bawah banyak sekali jejak kaki menari

satunya lagi tak berani aku memandangnya; seperti perangkap
berdebu dan jarang terjamah peziarah

aku ragu; para malaikat mengepakkan sayapnya

seketika aku turun dari pelana
ku tanggalkan pedang; pun juga baju zirah

mundur tiga langkah; tapi tak kembali arah

[14] di bawah lingkaran kubah

ku buat tenda dengan carang-carang pohon berduri
atapnya dedaunan yang hampir membeku

disini kuhamparkan kepasrahan

karena kehidupan terasa mimpi yang panjang
dan mimpi menjadi kesadaran yang telanjang

masihkah engkau akan meneruskan perjalanan ini?

pertanyaan itu membuatku semakin lelah;
ku coba pejamkan mata
tapi di sana ada sejumlah orang;  di dalam goa
bersama seekor anjing yang begitu setia; ratusan tahun terpenjara
mereka juga telah tersesat
tanpa makanan atau setetes minuman; apalagi harapan

[15] di bawah lingkaran kubah

itulah dia si belerang merah ketika aku berhenti
sorot matanya tajam menikam keberanianku

bagiku ia datang untuk mengatakan bahwa keraguan
adalah dosa yang tak termaafkan

tiba-tiba saja tangannya merampas bahuku
sabdanya melukai pengetahuanku

aku buang khutbahnya; pun juga tumpukan kitabnya
karena ia ingin aku ada di dalam dadanya
untuk mengeluarkan jantungnya 

tapi bagaimanakah caraku mengambilnya?
karena di sana tidak ada segumpal darah; tapi seonggok bara

[16] di bawah lingkaran kubah

aku bangkit kembali untuk menghidupkan sejumlah nama
untuk ku rapal sebagai mantra; ku rajut menjadi mimpi

sementara kabut mulai memeluk tubuhku


Download Contoh Puisi Religius
Di bawah lingkaran kubah